Selasa, 14 April 2009

Profesionalisme Programer

Ternyata programer itu juga kudu punya sifat ya. Gak tau ni sumbernya darimana, atau emang sendiri . Nuwun sewu bro, tak tulis disini, biar diinget ajah, siapa tau ada manfaat.

Sifat-sifat seorang programmer:

1. Belajar bahasa program yang baru.
2. Selalu memulai belajar dari dasar.
3. Bertanya, bertanya dan membaca.
4. Lakukan dengan senang hati.
5. Tidak pernah berhenti mencoba ide-ide baru.
6. Mencari kepuasan dengan mencipta dan mencoba.
7. Memahami dan menguasai semua peralatan pekerjaannya.
8. Mulai membuat perkumpulan.
9. Berfikiran bahwa struktur adalah alat, langit adalah batasannya.
10. Tidak ada yang tidak bisa sebelum dicoba.
11. Berfikir sederhana terhadap permasalahan.
12. Tidak takut membangun kode yang lain dari yang lain.
13. Tidak takut untuk berkolaborasi.
14. Menghasilkan sesuatu yang sederhana menjadi luar biasa.

Kayaknya ada yang kurang deh. Mungkin bisa ditambahin lagi, kudu siap begadang dan dicuekin istri hihihi. (eh bener gak ya? belon pengalaman punya istri sih..). Ato ada yang mo nambahin lagi?

Read More......

Profesionalisme Dokter

Beberapa waktu berlalu, dipenghujung tahun 2007 hingga saat ini beberapa kejadian menimbulkan pertanyaan pada saya. Apa makna profesionalisme sebenarnya ? Profesi-profesi ini dikenal sebagai profesi yang mulia beberapa periode lalu. Namun, sepertinya (bagi saya sebagai awam) dengan semakin banyaknya peminat, semakin mahalnya biaya kuliah membuat sebagian orang pada profesi ini dan bahkan profesi lain di institusi tempat dia bekerja melakukan penyalahgunaan kepercayaan dari penggunanya.


Profesi yang saya sebut diatas adalah dokter dengan institusi didalamnya adalah rumah sakit. Di kota sebesar "Surabaya" mana mungkin anda akan kesulitan menemui seorang dokter ahli (kecuali mau bayar mahal di praktek atau rumah sakit kelas elit). Yaah, inilah kenyataan.

Beberapa dokter spesialis yang memang sudah dijadwalkan hadir di poli onkologi RSUD Dr. Soetomo misalnya, bisa saja tidak hadir dengan alasan sepele : anaknya wisuda, dokternya ikut seminar ke luar kota dan akhirnya di poli hanya tinggal dokter PPDS. Padahal jelas bahwa pada kasus-kasus tertentu keputusan dari dokter spesialis sangat dibutuhkan. Dengan tidak bermaksud meremehkan media komunikasi via hp, tapi bagaimana dokter bisa memutuskan tanpa adanya medical record yang bisa digaransi akurasinya. Kalau ini, ya memang saya meremehkan model medical record RSUD Dr.Soetomo memang.

Berbicara soal medical record, bukankah sesuai poster yang ditempel di sebagian besar dinding ruang rawat inap RS tersebut sudah jelas bahwa pasien berhak mendapatkan semua dokumen berkaitan dengan hasil pemeriksaan, berhak mencari opini dari dokter lainnya dengan sepengetahuan dokter yang merawat. Namun pada kenyataannya ? Mana bisa. Dari wawancara dengan beberapa pasien dan keluarga pasien, bahkan ada yang satu hari menjelang operasi meminta hasil pemeriksaan rontgen dan USG namun diketahui malah tidak berada ditempat alias hilang. Ada juga yang hasil pemeriksaan laboratoriumnya raib entah kemana. Kalaupun ada, apakah hasil pemeriksaan ini bisa diminta pasien (mengingat, pasien sendiri yang mengeluarkan biaya untuk pemeriksaan tersebut). Sebagian besar pasien menyatakan: tidak pernah meminta, sisanya menjawab : bisa, tapi sulit atau hanya diberi rangkuman hasil pemeriksaan (bukan hasil pemeriksaan asli dari dokter, dan itupun hanyalah salinan, yang kadang tidak jelas, bahkan harus bayar lagi).

Jika memantau lebih dalam di ruang-ruang rawat inap, dan perhatikan setiap pasien yang pulang. Berapa banyak pasien pulang tanpa menyisakan obat infus ? Artinya saat membeli obat infus, selalu berlebih, tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Apakah paramedis tidak diajari tentang estimasi kebutuhan dan efisiensi ?

Ini nih, belum lagi ditambah dengan urusan administrasi rawat inap. Wah, susah bener deh pokoknya... saya aja yang coba menelusuri prosedur pengurusan rawat inap askes di Soetomo merasakan beberapa hal ini :
- Informasi tidak jelas
- Kemana-mana jauh banget
- Petugasnya "agak" ketus
Kalau pasien dan keluarganya dari perantauan, gimana donk nasibnya ?

Dengan sebegitu rumitnya penderitaan yang dialami orang "tidak kaya" yang butuh perawatan medis atas sakit yang dideritanya. Apakah dokter kini hanyalah sebuah gelar ? Ataukah rumah sakit hanyalah institusi bisnis semata ?

Sebuah sumber menyatakan bahwa dari hasil riset yang dilakukannya, diketahui bahwa sekitar 30 - 60% pendapatan dokter berasal dari farmasi ? Fenomena apa ini ? (Sudah rahasia umum sebenarnya). Andaikan saya seorang dokter yang "matrealistis", wah jelas saja saya akan berbaik-baik pada farmasi dan pasien hanyalah sambilan ? Berapa banyak ya, yang bersikap seperti itu? Dan apa yang terjadi dengan pasien ? Apakah mengikuti kongress dan seminar adalah bentuk profesionalisme dokter dibanding dengan merawat pasien ? Bagaimana batasan etika kedokteran ? Ataukah ini demi sebuah kebutuhan yang harus dimaklumi oleh segenap masyarakat ?

sumber : http://suhermin.blogspot.com/2008/01/profesionalisme-etika-atau-kebutuhan.html

Read More......

Selasa, 31 Maret 2009

Etika Mengundurkan Diri

Ketika memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan yang sekarang, pasti Anda telah memiliki tujuan tersendiri, yaitu ingin memulai petualangan baru di luar sana demi mendapatkan peningkatan karier dan penghasilan. Yang pasti kemanapun nantinya Anda akan mengakhiri petualangan, reputasi serta hubungan dengan rekan kerja yang baik harus diutamakan.


Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan agar memiliki kesan yang baik ketika memutuskan untuk mengundurkan diri dari sebuah pekerjaan.

* Apapun yang terjadi, tetap tunjukkan profesionalisme
Walaupun Anda harus pergi dalam keadaan yang tidak menyenangkan, tunjukkan sikap profesionalisme dalam proses resign. Karena orang akan mengingat apapun yang tidak Anda tangani dengan baik ketika akan berhenti dan ini akan menghantui Anda nantinya. Perlakukan orang lain dengan penuh hormat dan jangan membicarakan hal-hal negatif tentang atasan. Karena para rekan kerja ini adalah network Anda di masa depan.

* Pengalihan tanggung jawab
Buat rencana peralihan pekerjaan, termasuk rekomendasi tentang hal-hal penting dari pekerjaan beserta jadwalnya. Jangan sengaja datang terlambat, berbasa-basi untuk mengikuti meeting lalu menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama rekan-rekan kerja, karena telah mengajukan surat pengunduran diri. Jangan lupa juga untuk menawarkan bantuan apabila ada pertanyaan penting yang harus diajukan oleh para rekan kerja, bahkan ketika Anda sudah benar-benar keluar dari kantor tersebut.

* Hargai orang lain
Ketika telah mengumumkan soal pengunduran diri, pastinya Anda akan menerima banyak ucapan baik secara langsung maupun lewat email yang berisi ucapan selamat tinggal dan terima kasih. Beri respon dengan mengirimkan ucapan terima kasih kepada setiap orang yang mengirimkannya. Dan jangan lupa juga untuk menghargai rekan-rekan yang ingin mengadakan farewell party untuk Anda sebelum pergi meninggalkan mereka.

* Akhiri dengan manis
Selama minggu terakhir, kirimkan note yang berisi ucapan selamat tinggal dan juga terima kasih untuk semua rekan-rekan kerja atas semua dukungannya selama ini, dan beri highlight untuk hal-hal yang sangat Anda hargai dari perlakuan perusahaan selama ini pada Anda. Jangan lupa juga untuk memberikan nomor telepon yang bida dihubungi untuk bisa tetap menjalin hubungan dengan para rekan untuk menjaga networking.

Pastinya, ketika membuat keputusan untuk mengundurkan diri, bukan tidak mungkin akan memberikan pengaruh terhadap emosi yang bercampur-campur. Ketika ada sebuah ketertarikan terhadap kesempatan baru, disana juga akan ada kesedihan, ketika harus meninggalkan rekan-rekan kerja dan teman-teman baik, apalagi jika Anda sudah berkerja dalam kurun waktu yang lama. Ingat, tujuannya adalah untuk memelihara hubungan baik, menjaga reputasi dan memberikan kesan baik sebelum mengundurkan diri.

Sumber :http://www.untukku.com/artikel-untukku/etika-mengundurkan-diri-dari-pekerjaan-untukku.html

Read More......

Etika Bekerja ditempat baru

Wawancara sudah dijalani, pekerjaan baru sudah didapat. Hari pertama bekerja sudah di depan mata. Tak jarang, perasaan gugup datang karena memikirkan apa yang akan dialami di kantor baru nanti. Persiapan memang perlu, tapi yang juga penting adalah performa Anda di sana.
Agar proses adaptasi berjalan sukses, langkah-langkah berikut ini bisa dipraktikkan.

1. KESAN Berikan kesan yang baik dan bersikaplah ramah. Kalau atasan tak punya waktu untuk memperkenalkan Anda pada orang-orang di kantor, Anda bisa melakukannya sendiri. Lakukan tanpa berlebihan. Jabat tangan mereka dengan hangat dan sebutkan nama Anda, sambil tersenyum.

2. BERGOSIP Kalau rekan kerja Anda mulai bergosip tentang atasan Anda atau orang yang Anda gantikan posisinya, abaikan saja. Balas obrolannya dengan senyum, jangan bertanya lebih lanjut meski Anda sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Selain tidak etis, Anda sendiri belum tahu "peta" hubungan antar rekan kerja di kantor baru.

3. RAJIN Kerjakan semua tugas dengan baik dan semangat tinggi. Selebihnya, biarkan atasan Anda menilai. Kalaupun kinerja Anda membuat keuntungan perusahaan meningkat, tak perlu mengatakan hal itu pada atasan untuk mendapatkan kenaikan gaji.

4. KERJASAMA Gunakan prinsip sedikit bicara banyak bekerja. Jangan sungkan bertanya kalau memang tak tahu. Kalau rekan kerja berinisiatif membantu ketika Anda mengalami kesulitan mengerjakan hal-hal baru, tak ada salahnya diterima. Selain bisa memakan waktu lebih lama dari seharusnya, menolak bantuan akan membuat mereka menduga Anda tak suka bekerjasama sebagai bagian dari tim.

5. MEMBANDINGKAN Meski Anda tidak sreg dengan cara kerja kantor baru Anda yang lebih lambat dari kantor lama, simpan saja perasaan itu dalam hati. Membanding-bandingkan kantor lama dengan tempat Anda bekerja sekarang akan membuat sebal rekan-rekan di kantor baru. Mereka akan heran mengapa Anda memilih pindah kerja, kalau di kantor lama terlihat lebih baik dalam berbagai hal.

6. KOMUNIKASI Kalau Anda punya bawahan di kantor baru, segera koordinasikan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Cari cara yang paling tepat untuk berkomunikasi dan bekerjasama dengannya. Misalnya, adakan rapat seminggu sekali dengan mereka. Ingat, Anda harus disiplin mengadakan rapat. Dengan demikian, mereka juga menanggapinya dengan serius.

7. TUJUAN Memiliki tujuan yang ingin dicapai sangatlah penting. Buat tujuan yang ingin Anda capai, lalu kemukakan pada atasan. Evaluasi secara berkala, sejauh mana pencapaian Anda. Buat tujuan-tujuan baru dalam jangka waktu tertentu, misalnya setiap enam bulan sekali.

8. SUKARELA Tak ada salahnya menawarkan diri ikut terlibat dalam proyek baru di luar tugas utama Anda. Ini bisa menambah nilai kerja Anda. Namun, lakukan ini hanya bila Anda mampu menyelesaikan tugas utama tepat waktu dan mengerjakan tugas tambahan ini dengan baik. Kalau tidak, pekerjaan tambahan justru jadi bumerang buat Anda.

9. TELITI Taati aturan menggunakan internet dan komputer yang berlaku di kantor baru Anda. Bila Anda memiliki blog, hati-hati memilih kata saat curhat tentang kantor baru Anda di blog. Anda tak ingin dipecat gara-gara masalah ini, bukan? Mengirim email juga perlu etika. Jangan memberi judul dengan kata-kata yang tidak etis ketika mengirim email berisi laporan yang tidak Anda sukai. Periksa kembali email yang akan dikirim ke klien, untuk menghindari kesalahan.

10. SAMA RATA Jangan meremehkan rekan kerja atau bawahan Anda. Belum tentu mereka serendah yang Anda duga. Membandingkan mereka dengan rekan-rekan kerja di kantor lama dapat menimbulkan sikap subyektif yang tak diperlukan.

11. UP DATE Meski berprestasi karena mengerjakan tugas-tugas di kantor dengan baik, terus perbarui pengetahuan dan wawasan tentang pekerjaan Anda. Berlangganan majalah, ikut milis, seminar dan membaca buku-buku yang berhubungan dengan pekerjaan Anda akan sangat membantu. LIL

Sumber :http://www.indofamily.net/index.php?option=com_content&task=view&id=534&Itemid=39

Read More......

BACA JUGA...!!!